Total Tayangan Halaman

Rabu, 02 Mei 2012

luka pada nama yang sama


Pagi ini aku bangun lebih cepat dari hari biasanya karena ini adalah hari pertama ku menjadi murid sma. Langit begitu cerah, angin pun bertiup lembut menggoyangkan rambut yang telah ku sisir rapi sejak tadi. Aku dan ibu berdiri di depan rumah menunggu mobil jemputan yang tak kunjung datang, karena sekolah ku cukup jauh dari rumah makanya aku dan teman yang rumahnya berdekatan memutuskan untuk menyewa mobil jemputan. Tin.. Tin..
‘’nah itu mobilnya ! Siska pergi dulu ya bu’’ tak lupa aku mencium tangan ibu sebelum pergi meninggalkannya.
‘’hati-hati ya nak’’ sambil tersenyum ibu menggosok-gosok kepala ku dengan tangannya.
            Setibanya di sekolah aku dan teman-teman langsung menuju barisan yang telah dibuat  mengikuti murid baru lainnya. Kami dikumpulkan untuk diberitahukan kelas yang kami dapat dan ruangannya. Setelah semuanya selesai, kami pun disuruh menuju kelas masing-masing. Untungnya aku satu kelas dengan teman smp ku namnya Rini, jadi aku tidak akan begitu sulit untuk mencari teman di kelas nanti. Sebelum memasuki kelas aku melihat laki-laki yang duduk di depan kelas ku dan dia tersenyum, yah aku fikir dia tersenyum pada ku karena tidak ada orang lain di belakangku.
            Sudah beberapa hari aku melihat laki-laki itu duduk di depan kelasku, dan akhirnya aku memutuskan untuk bertanya pada teman satu kelas ku yang nampaknya dia mengenal laki-laki tampan itu.
‘’emh, Tyo kamu kenal sama dia ?’’ sambil mengarahkan pandangan pada laki-laki itu.
‘’iya, kenapa ? suka ?’’
‘’heh, sembarangan. Heran aja tiap pagi dia selalu duduk di depan kelas kita. Siapa namanya ? kelas berapa sih ?’’
‘’oh, gitu. Namanya Jaya kelas 11 ips. Eh, sis aku kekantin yah.’’
‘’iya deh, maksih yah infonya.’’
            Oh, jadi namanya Jaya. Sejak itu aku makin sering melihat dia dan entah kenapa aku semakin ingin mengenal dia lebih jauh.
            Tet.. Tet.. Bel tanda istirahat pertama pun berbunyi, aku dan Rini dengan cepat ingin menuju kantin. Baru beberapa langkah menjauhi kelas, aku melihat Jaya menuju musholah tentunya aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan melihat dia akhirnya kami tidak jadi kekantin dan malah ke musholah. Ternyata di jam istirahat begini mushola rame sama anak-anak yang mau shlat duha, termasuk si Jaya dan kami yang akhirnya ikutan shlat duha. Setelah selesai aku cepat-cepat mencari dia dan dengan cepat aku menemukannya, dia masuk ke kelas 11 ips a.
‘’oh, jadi si Jaya itu anak kelas 11 ips a.’’
‘’duh, sis udah tau kan. Laper nih makan yuk.’’
‘’ih, iya Rini, cerewet banget sih.’’
            Kamis siang sekolah ku membebaskan muridnya dari pelajaran akademik, tapi kami punya jadwal ekstrakulikuler. Aku dan Rini mengikuti eskul paduan suara, sedikit maksain sih karena jelas-jelas suara ku nggak bagus. Setelah selesai jam eskul aku dan Rini menuju lapangan basket buat ajak pulang teman satu mobil jemputan. Ternyata di situ lagi-lagi ada Jaya wah rasanya nih mata seger banget bisa liat dia di mana-mana. Sejak saat itu aku tahu dia ikut ekstrakulikuler basket dan sejak saat itu juga aku nggak pernah absen untuk ke lapangan tiap kali jam eskul ku selesai.
            Tidak jauh beda dengan hari kamis, hari jum’at pun begitu. Di sini kami dilatih untuk berorganisasi dan aku memilih organisasi rohis. Tanpa aku tahu sebelumnya kalau ternyata tempat ku dan Jaya itu bersebelahan, dia e organisasi pramuka dan sejak itu aku begitu semangat untuk sekolah dan melakukan kegiatan lainnya.
            Pada suatu hari salah satu teman dekat ku bilang kalau Jaya itu ketua di ekstrakulikuler basket dan wakil di organisasi pramuka dan aku semakin mengaguminya. Tapi teman-teman ku banyak yang tidak menyukainya dengan alasan dia itu suka marah-marah kalau sedang memberi pengarahan saat jam eskul, tapi itu tidak berpengaruh sama sekali buat ku.
            Cukup lama aku hanya mengaguminya dan akhirnya aku meminta bantuan senior ku di rohis yang pada dasarnya teman dekatnya di Jaya. Akhirnya dia tahu tentang keberadaanku. Tapi sayang saat itu aku punya pacar dan Jaya tahu itu yang membuat dia tidak mau mendekati ku. Sampai berapa lama akhirnya aku putus dan disaat itu dia punya pacar.
            Saat ini aku sudah duduk di kelas 11 dan kebetulan kelas kami bersebelahan. Aku masih terus memperhatikannya entah dia tahu atau tidak yang jelas aku masih punya perasaan itu yang aku sendiri tidak tahu bagaimana menghilangkannya.
            Pada suatu hari dia memecahkan pot bunga kelas ku dan dengan muka bersalah dia masuk kelas dan bicara sama ketua kelas kalau dia mau mengganti pot yang pecah itu, tapi dia malah menyuruh Jaya menemui aku karena menurutnya aku yang tahu harga pot itu secara di kelas aku sebagai bendahara.
Semakin dia dekat menuju tempat aku duduk, semakin kencang jantungku berdetak dan tenyata tidak cuma itu, muka ku jadi memerah.
‘’dek berapa harga yang harus aku ganti ? tadi tidak sengaja aku memecahkan pot bunga kalian.’’
‘’eh nggak usah kak’’ dengan gugup aku menjawab
‘’jangan begitu, nanti kalian kena marah. Berapa harganya ?’’dengan nada sedikit mendesak. Akhirnya aku mengatakan jumlah uang yang harus dia bayar untuk mengganti pot bunga itu.
            Hal yang tidak akan pernah aku lupakan darinya ialah permainannya dilapangan, mungkin dia bukan yang terhebat tapi buat ku dia bintang lapangan. Disetiap pertandingannya aku hampir tidak pernah absen untuk menjadi suporter setianya, aku rela berteriak sekuat-kuatnya untuk dia. Namun suasana lapangan berbeda ketika dia tidak ada.
            Ini adalah hari perpisahan aku dan dia karena selama dua tahun di sma ini aku selalu melihat dia dan mulai hari ini dia akan pergi kuliah, rasanya aku ingin sekali mengatakan apa yang aku rasakan sebelum dia pergi dan aku juga tidak tahu kapan kami bisa bertemu kembali tapi nyatanya tidak semudah itu.
            Rasanya sakit menyukai seseorang tanpa dia tahu akan hal itu. Sejak kepergiannya aku seperti kehilangan semangat untuk melanjutkan sekolah ku, karena buat ku dia adalah alasan mengapa aku bisa terus tertawa di sekolah dan dia adalah salah satu alasan mengapa aku berusaha sekuat tenaga ku untuk bisa masuk universitas terbaik di mana Jaya berkuliah di sana. Itu karena aku ingin mendapatkan semangat ku lagi, itu karena aku masih ingin memperjuangkan cinta yang tak pernah dia tahu. Sampai saat ini, hari ini, detik ini perasaan itu masih tersimpan rapi dan entah kapan dia akan tahu hal ini atau bahkan waktu yang akan menghapus perasaan menyedihkan ini.
            Beberapa bulan berlalu dan kini aku sudah menjadi mahasiswi walaupun nyatanya aku gagal untuk melanjutkan kuliah di universitas yang sama dengan Jaya, tapi aku percaya Tuhan punya rencana yang indah untuk semua yang telah aku lakukan karena yang penting itu bagaimana prosesnya masalah hasil itu urusan takdir.
            Saat ini aku lagi dekat dengan kakak tingkat ku, namanya Agung. Awalnya dia menghubungiku lewat facebook dan ternyata dia mengenalku sejak acara penyambutan mahasiswa baru. Aku nggak nyangka ternyata dia memperhatikan aku padahal waktu acara itu dia biasa saja bahkan kami tidak saling menyapa.
            Beberapa hari berlalu aku dan dia semakin dekat dan komunikasi pun semakin intensif dan aku baru sadar kalau ternyata aku sudah lebih dulu mempunyai nomor handphone nya, setelah aku ingat-ingat ternyata dia kakak tingkat yang pembimbing akademiknya sama dengan aku. Satu lagi kebetulan yang sama sekali nggak pernah aku duga ternyata kak Agung itu dipanggil Jaya sama teman-temannya. Yah, namanya Agung Sanjaya benar-benar membuat aku sedikit takut untuk tetap dekat dengannya.
            Bulan-bulan pun berlalu dan aku semakin dekat dengannya, aku pernah cerita kalau aku ingin sekali menonton film kartun yang kebetulan saat tanyang di tv aku tidak sempat menontonnya dan ternyata dia itu salah satu penggemar film itu. Akhirnya dia meminjamkan film itu pada ku dan setelah menonton film itu aku jadi ikut-ikutan menyukainya sampai-sampai soundtrack nya saja aku jadikan  nada dering handphone ku.
            Kini aku punya semangat baru untuk pergi ke kampus. Yah, Agung sebagai Jaya yang lain walaupun sebenarnya aku belum bisa sepenuhnya membuang perasaan yang pernah ada untuk Jaya sma ku. Tapi setidaknya aku punya penyemangat walaupun itu tidak terjadi secara langsung.
            Namun disetiap senyum pagiku aku selalu menyimpan rasa kecewa karena dia orang yang pemalu. Siang itu aku buru-buru keluar kelas karena ada kakak tingkat yang mau memakai ruangan itu makanya kami semua disuruh pindah. Ketika perkuliahan dimulai kembali aku baru sadar kalau ternyata buku tulis ku hilang, aku sudah mencari kesemua sudut kelas sampai-sampai aku ditegur dosen karena diangkap mengganggu teman yang lain akhirnya aku putuskan untuk berhenti mencari dan terduduk lesu. Sampai dosen itu keluar aku segera membuka handphone yang dari tadi bergetar, ternyata itu ada pesan dari kak Agung dia bilang kalau buku tulis ku tertinggal di kelas tadi dan sekarang dia yang menyimpannya. Huh, syukurlah aku sedikit tenang mendengarnya. Namun yang membuat aku kecewa ketika dia mengembalikan buku itu dia hanya menitipakan pada teman kelas ku, padahal aku berharap bisa bertemu dia langung.
            Lebih kurang sudah tiga bulan kedekatan aku dan kak Agung namun tidak ada tanda-tanda kami akan lebih dari sekedar teman. Padahal aku berharap lebih dengannya. Entah sejak kapan kami sering gantian untuk membangunkan dan mengingatkan untuk shalat subuh, ini momen yang paling aku suka apalagi ketika itu ngebanguninnya dengan ditelpon rasanya bangun tidur udah dengar suara dia itu nyaman banget dan efeknya pagi-pagi ke kampus dengan muka senyum-senyum sendiri.
            Teman dekat ku di kampus juga udah tahu tentang kedekatan ini dan tiap kali aku senyum-senyum masuk kelas atau lagi buka handphone mereka tahu kalo kak Agung penyebabnya. Buat ku tidak ada yang perlu ditutup-tutupi dari mereka karena saat ini merekalah keluarga ku yang paling dekat.
            Akhir-akhir ini aku merasa ada yang beda dari kak Agung, dia seperti menjauh. Satu hari berlalu tanpa kabar darinya, dua hari sampai akhirnya hari ke tiga padahal sebelumnya dia tidak pernah tidak menghubungi ku. Aku mulai khawatir apa ada yang salah dengan ku ? aku berfikir keras untuk hal itu, namun akhirnya aku menyerah karena aku benar-benar tidak tahu apa salahku. Akhirnya aku memutuskan untuk menghubunginya duluan dan ketika ku tanya mengapa dia begitu, jawabannya begitu menyakitkan ‘’aku ingin sendiri’’ jawaban itu seperti cambuk buat ku. Aku tidak putus asa sampai hari kelima aku menghubunginya kembali dan mengajukan pertanyaan yang sama dan dengan jawaban yang sama juga bahwa dia masih tetap ingin sendiri, ini begitu menyakitkan aku merasa  sudah dibuat menyukainya dan kemudian dia meninggalkan aku tanpa sebab dan membiarkan ku merasakan apa yang tidak dia rasakan.
            Keadaan dan perasaan seperti ini terulang kembali pada nama yang sama, begitu menyakitkan ketika seseorang yang kita suka pergi sebelum dia tahu perasaan yang kita punya. Seharusnya dari awal aku sudah mempertimbangkan hal ini karena mereka punya nama yang sama. Namun aku tidak menyesal karena buat ku ini adalah pelajaran hidup yang Tuhan berikan untuk ku, kadang kita memang dipertemukan dengan orang yang salah sebelum dipertemukan dengan orang benar yang nantinya akan menjadi milik kita seutuhnya.