Pagi ini aku bangun
lebih cepat dari hari biasanya karena ini adalah hari pertama ku menjadi murid
sma. Langit begitu cerah, angin pun bertiup lembut menggoyangkan rambut yang
telah ku sisir rapi sejak tadi. Aku dan ibu berdiri di depan rumah menunggu
mobil jemputan yang tak kunjung datang, karena sekolah ku cukup jauh dari rumah
makanya aku dan teman yang rumahnya berdekatan memutuskan untuk menyewa mobil
jemputan. Tin.. Tin..
‘’nah itu mobilnya !
Siska pergi dulu ya bu’’ tak lupa aku mencium tangan ibu sebelum pergi
meninggalkannya.
‘’hati-hati ya nak’’
sambil tersenyum ibu menggosok-gosok kepala ku dengan tangannya.
Setibanya di sekolah aku dan teman-teman langsung menuju
barisan yang telah dibuat mengikuti
murid baru lainnya. Kami dikumpulkan untuk diberitahukan kelas yang kami dapat
dan ruangannya. Setelah semuanya selesai, kami pun disuruh menuju kelas
masing-masing. Untungnya aku satu kelas dengan teman smp ku namnya Rini, jadi
aku tidak akan begitu sulit untuk mencari teman di kelas nanti. Sebelum
memasuki kelas aku melihat laki-laki yang duduk di depan kelas ku dan dia
tersenyum, yah aku fikir dia tersenyum pada ku karena tidak ada orang lain di
belakangku.
Sudah beberapa hari aku melihat laki-laki itu duduk di
depan kelasku, dan akhirnya aku memutuskan untuk bertanya pada teman satu kelas
ku yang nampaknya dia mengenal laki-laki tampan itu.
‘’emh, Tyo kamu kenal
sama dia ?’’ sambil mengarahkan pandangan pada laki-laki itu.
‘’iya, kenapa ? suka
?’’
‘’heh, sembarangan.
Heran aja tiap pagi dia selalu duduk di depan kelas kita. Siapa namanya ? kelas
berapa sih ?’’
‘’oh, gitu. Namanya
Jaya kelas 11 ips. Eh, sis aku kekantin yah.’’
‘’iya deh, maksih yah
infonya.’’
Oh, jadi namanya Jaya. Sejak itu aku makin sering melihat
dia dan entah kenapa aku semakin ingin mengenal dia lebih jauh.
Tet.. Tet.. Bel tanda istirahat pertama pun berbunyi, aku
dan Rini dengan cepat ingin menuju kantin. Baru beberapa langkah menjauhi
kelas, aku melihat Jaya menuju musholah tentunya aku tidak mau menyia-nyiakan
kesempatan melihat dia akhirnya kami tidak jadi kekantin dan malah ke musholah.
Ternyata di jam istirahat begini mushola rame sama anak-anak yang mau shlat
duha, termasuk si Jaya dan kami yang akhirnya ikutan shlat duha. Setelah
selesai aku cepat-cepat mencari dia dan dengan cepat aku menemukannya, dia
masuk ke kelas 11 ips a.
‘’oh, jadi si Jaya itu
anak kelas 11 ips a.’’
‘’duh, sis udah tau
kan. Laper nih makan yuk.’’
‘’ih, iya Rini, cerewet
banget sih.’’
Kamis siang sekolah ku membebaskan muridnya dari
pelajaran akademik, tapi kami punya jadwal ekstrakulikuler. Aku dan Rini
mengikuti eskul paduan suara, sedikit maksain sih karena jelas-jelas suara ku
nggak bagus. Setelah selesai jam eskul aku dan Rini menuju lapangan basket buat
ajak pulang teman satu mobil jemputan. Ternyata di situ lagi-lagi ada Jaya wah
rasanya nih mata seger banget bisa liat dia di mana-mana. Sejak saat itu aku
tahu dia ikut ekstrakulikuler basket dan sejak saat itu juga aku nggak pernah
absen untuk ke lapangan tiap kali jam eskul ku selesai.
Tidak jauh beda dengan hari kamis, hari jum’at pun
begitu. Di sini kami dilatih untuk berorganisasi dan aku memilih organisasi
rohis. Tanpa aku tahu sebelumnya kalau ternyata tempat ku dan Jaya itu
bersebelahan, dia e organisasi pramuka dan sejak itu aku begitu semangat untuk
sekolah dan melakukan kegiatan lainnya.
Pada suatu hari salah satu teman dekat ku bilang kalau
Jaya itu ketua di ekstrakulikuler basket dan wakil di organisasi pramuka dan
aku semakin mengaguminya. Tapi teman-teman ku banyak yang tidak menyukainya
dengan alasan dia itu suka marah-marah kalau sedang memberi pengarahan saat jam
eskul, tapi itu tidak berpengaruh sama sekali buat ku.
Cukup lama aku hanya mengaguminya dan akhirnya aku
meminta bantuan senior ku di rohis yang pada dasarnya teman dekatnya di Jaya.
Akhirnya dia tahu tentang keberadaanku. Tapi sayang saat itu aku punya pacar
dan Jaya tahu itu yang membuat dia tidak mau mendekati ku. Sampai berapa lama
akhirnya aku putus dan disaat itu dia punya pacar.
Saat ini aku sudah duduk di kelas 11 dan kebetulan kelas
kami bersebelahan. Aku masih terus memperhatikannya entah dia tahu atau tidak
yang jelas aku masih punya perasaan itu yang aku sendiri tidak tahu bagaimana
menghilangkannya.
Pada suatu hari dia memecahkan pot bunga kelas ku dan
dengan muka bersalah dia masuk kelas dan bicara sama ketua kelas kalau dia mau
mengganti pot yang pecah itu, tapi dia malah menyuruh Jaya menemui aku karena
menurutnya aku yang tahu harga pot itu secara di kelas aku sebagai bendahara.
Semakin dia dekat
menuju tempat aku duduk, semakin kencang jantungku berdetak dan tenyata tidak
cuma itu, muka ku jadi memerah.
‘’dek berapa harga yang
harus aku ganti ? tadi tidak sengaja aku memecahkan pot bunga kalian.’’
‘’eh nggak usah kak’’
dengan gugup aku menjawab
‘’jangan begitu, nanti
kalian kena marah. Berapa harganya ?’’dengan nada sedikit mendesak. Akhirnya
aku mengatakan jumlah uang yang harus dia bayar untuk mengganti pot bunga itu.
Hal yang tidak akan pernah aku lupakan darinya ialah permainannya
dilapangan, mungkin dia bukan yang terhebat tapi buat ku dia bintang lapangan.
Disetiap pertandingannya aku hampir tidak pernah absen untuk menjadi suporter
setianya, aku rela berteriak sekuat-kuatnya untuk dia. Namun suasana lapangan
berbeda ketika dia tidak ada.
Ini adalah hari perpisahan aku dan dia karena selama dua
tahun di sma ini aku selalu melihat dia dan mulai hari ini dia akan pergi
kuliah, rasanya aku ingin sekali mengatakan apa yang aku rasakan sebelum dia
pergi dan aku juga tidak tahu kapan kami bisa bertemu kembali tapi nyatanya
tidak semudah itu.
Rasanya sakit menyukai seseorang tanpa dia tahu akan hal
itu. Sejak kepergiannya aku seperti kehilangan semangat untuk melanjutkan
sekolah ku, karena buat ku dia adalah alasan mengapa aku bisa terus tertawa di
sekolah dan dia adalah salah satu alasan mengapa aku berusaha sekuat tenaga ku
untuk bisa masuk universitas terbaik di mana Jaya berkuliah di sana. Itu karena
aku ingin mendapatkan semangat ku lagi, itu karena aku masih ingin memperjuangkan
cinta yang tak pernah dia tahu. Sampai saat ini, hari ini, detik ini perasaan
itu masih tersimpan rapi dan entah kapan dia akan tahu hal ini atau bahkan waktu
yang akan menghapus perasaan menyedihkan ini.
Beberapa bulan berlalu dan kini aku sudah menjadi
mahasiswi walaupun nyatanya aku gagal untuk melanjutkan kuliah di universitas
yang sama dengan Jaya, tapi aku percaya Tuhan punya rencana yang indah untuk
semua yang telah aku lakukan karena yang penting itu bagaimana prosesnya
masalah hasil itu urusan takdir.
Saat ini aku lagi dekat dengan kakak tingkat ku, namanya
Agung. Awalnya dia menghubungiku lewat facebook dan ternyata dia mengenalku
sejak acara penyambutan mahasiswa baru. Aku nggak nyangka ternyata dia
memperhatikan aku padahal waktu acara itu dia biasa saja bahkan kami tidak
saling menyapa.
Beberapa hari berlalu aku dan dia semakin dekat dan
komunikasi pun semakin intensif dan aku baru sadar kalau ternyata aku sudah
lebih dulu mempunyai nomor handphone nya, setelah aku ingat-ingat ternyata dia
kakak tingkat yang pembimbing akademiknya sama dengan aku. Satu lagi kebetulan
yang sama sekali nggak pernah aku duga ternyata kak Agung itu dipanggil Jaya
sama teman-temannya. Yah, namanya Agung Sanjaya benar-benar membuat aku sedikit
takut untuk tetap dekat dengannya.
Bulan-bulan pun berlalu dan aku semakin dekat dengannya,
aku pernah cerita kalau aku ingin sekali menonton film kartun yang kebetulan
saat tanyang di tv aku tidak sempat menontonnya dan ternyata dia itu salah satu
penggemar film itu. Akhirnya dia meminjamkan film itu pada ku dan setelah
menonton film itu aku jadi ikut-ikutan menyukainya sampai-sampai soundtrack nya
saja aku jadikan nada dering handphone
ku.
Kini aku punya semangat baru untuk pergi ke kampus. Yah,
Agung sebagai Jaya yang lain walaupun sebenarnya aku belum bisa sepenuhnya
membuang perasaan yang pernah ada untuk Jaya sma ku. Tapi setidaknya aku punya
penyemangat walaupun itu tidak terjadi secara langsung.
Namun disetiap senyum pagiku aku selalu menyimpan rasa
kecewa karena dia orang yang pemalu. Siang itu aku buru-buru keluar kelas
karena ada kakak tingkat yang mau memakai ruangan itu makanya kami semua
disuruh pindah. Ketika perkuliahan dimulai kembali aku baru sadar kalau
ternyata buku tulis ku hilang, aku sudah mencari kesemua sudut kelas
sampai-sampai aku ditegur dosen karena diangkap mengganggu teman yang lain
akhirnya aku putuskan untuk berhenti mencari dan terduduk lesu. Sampai dosen
itu keluar aku segera membuka handphone yang dari tadi bergetar, ternyata itu
ada pesan dari kak Agung dia bilang kalau buku tulis ku tertinggal di kelas
tadi dan sekarang dia yang menyimpannya. Huh, syukurlah aku sedikit tenang
mendengarnya. Namun yang membuat aku kecewa ketika dia mengembalikan buku itu
dia hanya menitipakan pada teman kelas ku, padahal aku berharap bisa bertemu
dia langung.
Lebih kurang sudah tiga bulan kedekatan aku dan kak Agung
namun tidak ada tanda-tanda kami akan lebih dari sekedar teman. Padahal aku
berharap lebih dengannya. Entah sejak kapan kami sering gantian untuk
membangunkan dan mengingatkan untuk shalat subuh, ini momen yang paling aku
suka apalagi ketika itu ngebanguninnya dengan ditelpon rasanya bangun tidur
udah dengar suara dia itu nyaman banget dan efeknya pagi-pagi ke kampus dengan
muka senyum-senyum sendiri.
Teman dekat ku di kampus juga udah tahu tentang kedekatan
ini dan tiap kali aku senyum-senyum masuk kelas atau lagi buka handphone mereka
tahu kalo kak Agung penyebabnya. Buat ku tidak ada yang perlu ditutup-tutupi
dari mereka karena saat ini merekalah keluarga ku yang paling dekat.
Akhir-akhir ini aku merasa ada yang beda dari kak Agung,
dia seperti menjauh. Satu hari berlalu tanpa kabar darinya, dua hari sampai
akhirnya hari ke tiga padahal sebelumnya dia tidak pernah tidak menghubungi ku.
Aku mulai khawatir apa ada yang salah dengan ku ? aku berfikir keras untuk hal
itu, namun akhirnya aku menyerah karena aku benar-benar tidak tahu apa salahku.
Akhirnya aku memutuskan untuk menghubunginya duluan dan ketika ku tanya mengapa
dia begitu, jawabannya begitu menyakitkan ‘’aku ingin sendiri’’ jawaban itu
seperti cambuk buat ku. Aku tidak putus asa sampai hari kelima aku
menghubunginya kembali dan mengajukan pertanyaan yang sama dan dengan jawaban
yang sama juga bahwa dia masih tetap ingin sendiri, ini begitu menyakitkan aku
merasa sudah dibuat menyukainya dan
kemudian dia meninggalkan aku tanpa sebab dan membiarkan ku merasakan apa yang
tidak dia rasakan.
Keadaan dan perasaan seperti ini terulang kembali pada
nama yang sama, begitu menyakitkan ketika seseorang yang kita suka pergi
sebelum dia tahu perasaan yang kita punya. Seharusnya dari awal aku sudah
mempertimbangkan hal ini karena mereka punya nama yang sama. Namun aku tidak
menyesal karena buat ku ini adalah pelajaran hidup yang Tuhan berikan untuk ku,
kadang kita memang dipertemukan dengan orang yang salah sebelum dipertemukan
dengan orang benar yang nantinya akan menjadi milik kita seutuhnya.