Total Tayangan Halaman

Sabtu, 19 Februari 2011

kertas...

Dia bagaikan kertas putih, yang tadinya tidak tidak tau ap yang akan tertulis diatasnya.

Dia seperti air yang berjalan, dan menjalani hidupnya dengan mengikuti aliran yang membawanya.

Kini, dia adalah kertas dimana sebagiannya telah terisi,

Dimana dia diam saat aliran air itu membawanya ketempat yang salah, karena aliran yang begitu derasnya, yang tak mampu dia hentikan !

Dia kini hanya kertas, yang mungkin sudah tak berarti, ttap mengalir mengikuti aliran ...

Dia disini, mencoba mencari, adakah pohon tumbang, yang mampu menghalanginya agar tak mengikuti arus air yang selama ini salah membawanya ???

Dia begitu tegar, berdiri sendiri menghadapi arus yang membawanya,

Ingin rasanya berteriak dan meminta bantuan pada setiap mereka yang terlihat..

Namun rasanya malu, jika ia menyadari bahwa dia hanyalah selembar kertas yang terbawa arus yang salah ...

Ingin menangis, namun ‘aku hanyalah kertas, yang terbawa arus’ tak ada yang bisa dilakukan, selain ia bertemu dan menemukan pohon tumbang itu, karna baginya, hanya itu yang mampu menyelesaikan tulisa-tulisan yang terpotong pada dirinya, dan menyelamatkannya dari arus itu ...

Hingga kini, sudah banyak pohon-pohon itu, namun tak satupun yang mampu membawanya kedaratan...

Mampukah ???

Berdiri dengan kedua kaki, ketika badai itu datang rasanya sangat sulit, apalagi dia ! Yang hanya berdiri dengan satu kakinya. Dia mencoba menerpa angin itu, menutupi segala kesedihannya agar saat orang melihatnya, yang terlihat hanyalah senyumnya, senyum keberhasilan prestasi yang dia punya.

Menangis, ku yakin dia selalu menangis ketika menatap foto usang dan tua itu, kecewa itu yang dia rasakan ketika ia membaca kembali buku harian itu, buku dimana dia tahu bahwa ibunya selalu menyayangi dia, dimana dia tahu bagaimana ayah begitu tega terhadap anaknya sendiri. Bagaimana dia harus bersikap pada orang yang setega itu dan orang yang harus dia hormati ?

Kini, dia telah beranjak remaja, dimana dia akan menentukan apakah dia akan melanjutkan sekolahnya atau tidak ? aku akui sebagai temannya dia termasuk orang yang pintar, dan tidak mustahil baginya dia bisa masuk sekolah favorit yang ada di Indonesia ini, ditambah lagi dengan kemauannya yang kuat itu.

Aku tahu kesedihan dan kebingungan yang dia rasakan, ketika orang terdekatnya tidak mengharapkannya untuk meneruskan sekolahnya, dia merusaha mencari jalan dimana kehidupannya akan ia tata. Tak terfikir olehnya jika harus menuruti kemauan orang yang selama ini ia hormati.

Ada hak baginya untuk merasakan kasih sayang ayahnya, yang kini telah berubah, karena hanya ayahnya lah yang dia punya, ibu telah lama membiarkannya untuk hidup mandiri. Namun keinginan itu kadang terusik ketika mengingat tulisan demi tulisan di buku harian milik ibunya itu.

Ada perasaan berdosa jika ia tidak menuruti kemauan orang yang selama ini merawatnya. Disaat seperti ini lah, badai itu datang, ketika ia tidak lagi mempunyai kaki sebelahnya untuk dia dapat bertanya jika jalan yang ia pilih salah.

Dan orang-orang seperti inilah yang paling kuat dalam menyembunyikan kesedihan yang dia punya.