Total Tayangan Halaman

Sabtu, 19 Februari 2011

Mampukah ???

Berdiri dengan kedua kaki, ketika badai itu datang rasanya sangat sulit, apalagi dia ! Yang hanya berdiri dengan satu kakinya. Dia mencoba menerpa angin itu, menutupi segala kesedihannya agar saat orang melihatnya, yang terlihat hanyalah senyumnya, senyum keberhasilan prestasi yang dia punya.

Menangis, ku yakin dia selalu menangis ketika menatap foto usang dan tua itu, kecewa itu yang dia rasakan ketika ia membaca kembali buku harian itu, buku dimana dia tahu bahwa ibunya selalu menyayangi dia, dimana dia tahu bagaimana ayah begitu tega terhadap anaknya sendiri. Bagaimana dia harus bersikap pada orang yang setega itu dan orang yang harus dia hormati ?

Kini, dia telah beranjak remaja, dimana dia akan menentukan apakah dia akan melanjutkan sekolahnya atau tidak ? aku akui sebagai temannya dia termasuk orang yang pintar, dan tidak mustahil baginya dia bisa masuk sekolah favorit yang ada di Indonesia ini, ditambah lagi dengan kemauannya yang kuat itu.

Aku tahu kesedihan dan kebingungan yang dia rasakan, ketika orang terdekatnya tidak mengharapkannya untuk meneruskan sekolahnya, dia merusaha mencari jalan dimana kehidupannya akan ia tata. Tak terfikir olehnya jika harus menuruti kemauan orang yang selama ini ia hormati.

Ada hak baginya untuk merasakan kasih sayang ayahnya, yang kini telah berubah, karena hanya ayahnya lah yang dia punya, ibu telah lama membiarkannya untuk hidup mandiri. Namun keinginan itu kadang terusik ketika mengingat tulisan demi tulisan di buku harian milik ibunya itu.

Ada perasaan berdosa jika ia tidak menuruti kemauan orang yang selama ini merawatnya. Disaat seperti ini lah, badai itu datang, ketika ia tidak lagi mempunyai kaki sebelahnya untuk dia dapat bertanya jika jalan yang ia pilih salah.

Dan orang-orang seperti inilah yang paling kuat dalam menyembunyikan kesedihan yang dia punya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar